Beberapa metode kesalahan berfikir yg harus dikenali (dan dihindari) dalam diskusi yg sehat.

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Beberapa metode kesalahan berfikir yg harus dikenali (dan dihindari) dalam diskusi yg sehat.

Post  Admin on Tue Mar 01, 2011 8:22 pm

Agar diskusi kita sehat, membangun dan tidak negatif saya coba menyampaikan beberapa hal yang harus kita hindari tatkala kita memulai atau mengikuti suatu diskusi. Hal ini menurut saya penting diketahui sebagai landasan kita menghasilkan diskusi yang mencerahkan (bukan menjelek2an, atau hasut-menghasut), karena sering kita lihat dalam diskusi yang tidak "berkelas", di mana terdapat oknum yang menggunakan taktik-taktik tidak sehat dengan metode pemutarbalikan logika yang parah. Sasaran mereka jelas, yaitu orang-orang yg gullible (mudah dipengaruhi). Ciri khas mereka adalah mempunyai daya kritis lemah dan/atau mudah ditakut-takuti.

Dalam suatu tulisan di milis internet, Daniel (2003) merangkum ada 20 taktik yg biasa dipakai oknum seperti ini (beberapa dgn penjelasan dan contoh yg dimodifikasi):

1. Ad Hominem :
Menyerang orangnya, bukan menjawab isi perdebatannya. Jadi ketika ia tidak dapat mempertahankan posisinya dengan bukti/fakta/alasan, maka mereka mulai mengkritik sisi kepribadian lawannya. Ia mulai menjelek2an kepribadian lawannya dengan mengungkit2 masa lalunya, latar belakangnya, kesukuannya, dll.

2. Appeal to Ignorance ( Argumentum ex silentio ) :
Menganggap suatu ketidaktahuan sebagai fakta atas sesuatu. Atau menganggap orang yg tidak menjawab sesuatu sebagai BUKTI bahwa ia memang tidak tahu jawabannya.

Misalnya :
Ada perdebatan live di televisi, di mana satunya di studio (bersama pembawa acara) dan satunya lagi via satelite. Karena transmisi yg tdk 100% sinkron, ada sedikit delay dalam penyampaian. Katakanlah di menit terakhir sebelum acara ditutup utk kesimpulan, si narasumber di studio mendesak lawannya dgn pertanyaan yg sukar, dalam, dan teknis, dan lawannya via satelit diam beberapa lama. "Ayo," teriak si narasumber di studio. "Jawab pertanyaan saya! Lihat 'kan? Dia gak bisa menjawab!" tekannya lagi.

Penonton bisa mendapat kesan bahwa diamnya si lawan adalah pertanda ia tidak tahu atau bodoh. Padahal bisa saja ada masalah connection lost dgn satelit, atau si lawan sdg memikirkan jawaban terbaik utk lawan bicaranya dalam waktu semepet itu. Atau bahka ia tidak bisa mendengar dengan jelas apa pertanyaannya.

Contoh sehari2:
Ahmad: Kamu tahu alamat si Nila, Din?
Udin: Tau.
Ahmad: Di mana?
Udin: Ah, aku gak mau kasih tau.

Meskipun berulang2 kali ditanya, si Udin tetap menolak, maka si Ahmad berkesimpulan si Udin sebenarnya gak tau. Padahal itu belum tentu kesimpulan yg benar.


3. Appeal to Belief :
Bila anda tidak memiliki kepercayaan, maka anda tidak akan mengerti. Bila seorang pendebat berdasarkan pada kepercayaan sebagai dasar dari argumennya, maka tiada lagi yang dapat dibicarakan dalam diskusi. Itu namanya bukan diskusi, tapi pemaksaan kepercayaan. Ini sering terjadi dalam diskusi2 yang menyerempet masalah agama dan adat/budaya.


4. Argument from Authority ( Argumentum ad verecundiam ) :
Menggunakan kata-kata "para ahli" atau membawa-bawa otoritas sebagai dasar dari argumen instead of menggunakan logic dan fakta untuk men-support argumen itu.

Misalnya :
Profesor Anu mengatakan bahwa fenomena XYZ adalah betul. Ingat, sesuatu tidak lantas menjadi 100% benar hanya karena suatu otoritas mengatakan sesuatu hal. Bila pendebat memberikan testimoni dari seorang ahli, lihat apakah dilengkapi dengan alasan yang logis dan masuk akal, serta hati-hati terhadap keotentikan sumber dan evidence di belakangnya.

5. Argument from Adverse Consequences :
Hanya karena suatu peristiwa terjadi, tidak menyatakan sesuatu mengenai eksitensi maupun non-eksistensi dari sesuatu. Atau pun tidak menyatakan suatu keharusan untuk mempercayai
sesuatu.

6. Menakut-nakuti ( Argumentum ad Baculum ) :
Argumen yang didasarkan pada tekanan atau rasa takut.

Misalnya :
Saya telah diberi kuasa oleh Negara, bila Anda tidak percaya kepada saya, maka Anda akan masuk Daftar Orang Tercela.

7. Argumentum ad Ignorantiam :
Argumen yang mempelesetkan ketidaktahuan seseorang.

Misalnya :
Pernyataan bahwa saya pasti betul karena tidak ada yang pernah membuktikan salah.

8. Argumentum ad populum :
Argumen yang digunakan untuk mendapatkan popularitas dengan menggunakan issue-issue yang sentimental daripada menggunakan fakta atau alasan.

9. Bandwagon Fallacy :
Menyimpulkan suatu idea adalah benar hanya karena banyak orang mempercayainya demikian. Hanya karena sekian banyak orang mempercayai sesuatu tidaklah membuktikan atau menyatakan fakta mengenai sesuatu.

10. Circular Reasoning :
Benda X itu ada karena Buku Y mengatakan demikian. <=> Buku Y itu katanya diinspirasikan oleh Benda X.

11. Confusion of Correlation and Causation :
Misalnya :
Anak yang menonton acara kekerasan di TV cenderung untuk menjadi ganas ketika ia dewasa.
Tetapi pertanyaannya, apakah program di TV itu yang menyebabkan kekerasan, ataukah anak-anak yang berbakat ganas cenderung menonton acara kekerasan di TV ???

12. Half Truths :
Suatu pernyataan yang biasanya ditujukan untuk menipu seseorang dengan menyembunyikan sebagian fakta / kebenaran.

13. Communal Reinforcement :
Suatu proses dimana suatu klaim menjadi suatu kepercayaan kuat melalui suatu pernyataan yang diulang-ulang oleh suatu anggota komunitas. Proses ini independent terhadap kebenaran klaim tersebut dan tidak didukung oleh data empiris yang signifikan untuk menggaransi bahwa kepercayaan itu didukung oleh alasan yang reasonable.

14. Non-Sequitur :
Alias nggak nyambung.
Suatu kesimpulan yang diambil tidak didasarkan pada suatu premis ataupun evidence / fakta.

15. Post Hoc, Ergo Propter Hoc :
Itu terjadi sebelumnya, maka itu disebabkan olehnya. Semacam non-sequitur, tetapi berdasarkan waktu.
Misalnya :
Seseorang menjadi sakit setelah pergi ke Mall, maka Mall adalah sumber penyakit. Padahal sakitnya tidak disebabkan oleh sesuatu yang ada hubungannya dengan kepergiannya ke Mall.

16. Red Herring :
Sering terjadi ? sang pendebat buru-buru mengalihkan perhatian / subyek pembicaraan.

17. Statistic of Small Number :
Satu kasus digunakan untuk menjudge keseluruhan.
Hanya karena suatu kejadian, tidak dapat mewakili kemungkinan keseluruhannya.

18. Straw Man :
Manusia jerami
Membuat suatu skenario yang salah image yang menyesatkan, kemudian menyerangnya.

19. Dua Salah Menjadi Benar
Misalnya :
Siapakah kamu yang mengatakan saya demikian apabila kamu juga begitu. Saya mencoba men-justify apa yang saya lakukan dengan melemparkan kesalahan yang sama pada Anda sebagai teman diskusi saya.

20. Observational Selection
Menggembar-gemborkan kejadian yang menguntungkan dan menutupi kejadian yang merugikan. (pilah-pilih fakta).


Nah....jika demikian, kalau seseorang menunjukkan gejala2 di bawah ini:

1. Delusion of grandeur (paham kebesaran) yaitu merasa diri orang hebat, orang penting, superior, dsb.
2. Flight of ideas: content pikirannya melompat2, tidak sistematis, bicaranya ngacak, speechnya incoherrent and incohessive, out of logical order (tidak runut)
3. Hostile (memusuhi)
4. Prejudice
5. Paranoid (curiga dan tidak percaya pada orang lain)
6. Senang mengeluarkan derogatory words (menghina)
7. Underestimate (meremehkan)
8. Halusinasi
9. Delusi/Ilusi)

mereka adalah orang yg sedang mengalami gangguan jiwa/mental, istilah medisnya disebut "Schizophrenic Paranoia."

Jika anda melihat ada orang di sekitar anda baik itu teman, kolega, kerabat atau keluarga atau diri anda sendiri menunjukkan salah satu, beberapa atau seluruh gejala2 di atas, maka sebaiknya anda menganjurkan atau mendatangi psychiatrist (dokter ahli jiwa) atau Psychologist (ahli perilaku terapi) untuk segera mendapatkan therapy.

Terus, kalau kita ketemu dgn orang seperti itu bagaimana dong?

Admin
Admin

Jumlah posting : 33
Join date : 01.03.11

Lihat profil user http://belianet.indonesianforum.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik